Calender Midun's

Selasa, 05 Februari 2013

Wisata Budaya Kalimantan Timur

Wisata Budaya Kutai Kartanegara
Koleksi Museum Negeri Mulawarman
Terletak di Kota Tenggarong lebih kurang 45 km dari Kota Samarinda, dan 110 km dari kota Balikpapan. Museum ini diresmikan tanggal 25 Nopember 1971 oleh Gubernur Kalimantan Timur (H.A Wahab Syahranie), dan diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 18 Februari 1976. Terdapat koleksi tua gamelan, Setinggi (Singgasana), Meriam Sapu Jagat serta koleksi dari Sultan Butungan, Sultan Pasir, Sultan Sambaliung dan Sultan Gunung Tabur. Makam Raja Kutai terletak di samping museum.
Untuk menuju Kesana dari Kota Samarinda anda dapat menggunakan sepeda motor maupun mobil. Akses jalan dapat melewati jalur darat dengan melewati loa janan dengan biaya Rp. 50.000 dan menyebrangi sungai untuk motor Rp. 3000, mobil Rp. 25.000. 
Kerajaan Kutai Kartanegara
Dalam Perjalanan Sejarahnya Kerajaan Kutai Berada Dalam Pemerintahan dua Dinasti yang satu dengan yang lainnya secara prinsip berbeda latar belakang sejarahnya. Generasi Pertama yang merupakan awal pendirian Kerajaan Kutai Martadipura dan Generasi Kedua adalah Kerajaan Kutai Kartanegara. Kutai Martadipura merupakan cikal bakal kerajaan Kutai yang dikenal Sekarang ini. Dalam prasasti tidak di sebutkan siapa pendiri kerajaan ini hanya disebutkan mulai Raja Kudungga. Pusat kerajaan ini berada berada di sekitar daerah Muara Kaman Hulu sekarang ini. Masa pemerintahan Generasi Pertama ini dihitung dari data yang tertua adalah sekitar dua belas abad yaitu dari abad IV sampai abad XVII.
Untuk menuju Kesana dari Kota Samarinda anda dapat menggunakan sepeda motor maupun mobil. Akses jalan dapat melewati jalur darat dengan melewati loa janan dengan biaya Rp. 50.000 dan menyebrangi sungai untuk motor Rp. 3000, mobil Rp. 25.000. 
Desa Jantur
Desa Jantur terletak sekitar 88 mil dari Tenggarong. Desa ini merupakan perkampungan nelayan yang mayoritas penduduknya adalah masyarakat suku Banjar. Keunikan dari perkampungan ini adalah adanya sebagian rumah-rumah yang dibangun diatas rakit dan terapung di sungai. Di desa ini dapat kita saksikan kehidupan sehari-hari masyarakat desa Jantur, seperti pembuatan ikan asin secara tradisional oleh ibu-ibu rumah tangga.
Pondok Labu
Pondok Labu merupakan sebuah perkampungan suku Dayak Benuaq yang terletak sekitar 25 km dari kota Tenggarong. Di desa ni dapat dijumpai lamin (rumah adat) suku Dayak Benuaq yang dinding-dindingnya terbuat dari kulit kayu. Hampir setiap tahun di desa ini dilaksanakan upacara adat suku Dayak Benuaq seperti Ngugu Tahun. Untuk mencapai perkampungan Pondok Labu ditempuh dengan melalui jalan Tenggarong-Kota Bangun kemudian berbelok ke kanan menggunakan jalan yang dibuat oleh perusahaan batubara PT. Multi Harapan Utama. Angkutan umum menuju Pondok Labu beroperasi setiap hari di terminal angkutan desa Pasar Tangga Arung.
Desa Brubus
Daerah Muara Kaman merupakan bekas pusat pemerintahan Kerajaan Kutai Martadipura yang  terkenal dengan rajanya Mulawarman. Di Desa Brubus yang terletak sekitar 48 mil dari kota Tenggarong, masih dapat dijumpai sisa-sisa peninggalan kerajaan Hindu tertua di Indonesia tersebut seperti batu kepala babi, lesong batu, kubu-kubu kuno, dan lain-lain.
Wisata Budaya Kutai Barat  
Situs Sendawar
Situs Sendawa diyakini sebagai bekas kerjaan Sendawar dengan raja Tulur Aji Jangkat. Situs ini merupakan kawasan wisata sejarh, terletak di Kampung Karang Rejo, Kecamatan Barong Tongkok, sekitar 7Km Pusat Kota Sendawar.
Barong Tongkok
Di Desa Eheng, Kecamatan Barong Tongkok, Kutai Barat, terdapat sebuah Lamin suku Dayak Tunjung. Disini dapat disaksikan kehidupan sehari-hari masyarakat suku Dayak tersebut, khususnya dalam pembuatan hasil kerajinan dari rotan seperti Anjat (tas keranjang), Lampit (tikar rotan), dan lain-lain.
Datah Bilang
Di Desa Datah Bilang bermukim dua suku Dayak Kenyah, yakni Umaq Jalan dan Umaq Bakung. Di desa yang terletak sekitar 196 mil dari Tenggarong ini dapat ditemui dua buah Lamin dari dua anak suku tersebut serta adat istiadat setempat.
Rukun Damai
Seperti halnya Desa Datah Bilang, di Desa Rukun Damai terdapat pemukiman masyarakat suku Dayak Kenyah. Di desa ini terdapat Lamin yang dihuni oleh beberapa keluarga suku Dayak Kenyah. Rukun Damai terletak sekitar 251 mil dari Tenggarong.
 Long Bagun
Di desa Long Bagun juga terdapat sebuah Lamin, namun Lamin disini berbeda dengan yang ada di Datah Bilang atau Rukun Damai. Lamin di desa Long Bagun adalah Lamin suku Dayak Penihing, disini dapat dilihat kehidupan masyarakat dan adat istiadat setempat. Desa ini terletak sekitar 251 mil dari Tenggarong.
Long Pahangai
Di Kecamatan Long Pahangai, sekitar 297 mil dari Tenggarong,  terdapat jeram-jeram yang deras dan ganas. Sangat mengasyikkan bagi wisatawan atau pecinta alam yang menggemari kegiatan arung jeram. Disini akan diuji keberanian dan keterampilan dalam menaklukkan jeram yang ganas tersebut.
 Long Segar dan Long Nuran
Kedua desa ini bertetangga dan termasuk dalam Kecamatan Muara Wahau. Terletak di tepi Sungai Wahau, untuk mengunjunginya dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarinda ke long Noran atau Long Segar. Mayoritas penduduk desa ini berasal dari suku Apo Kayan. Desa ini kaya akan daya tarik seni budaya dan kerajinan seperti Mandau, patung dan lain-lain. Di desa ini sudah tersedia fasilitas akomodasi berupa lamin (rumah tradisional suku Dayak) untuk para wisatawan.
Luuq Geleo Baru
Luuq (lamin) Geleo Baru merupakan lamin cikal bakal perkampungan Galeo. Hingga sekarang, lamin ini masih berdiri dengan kokohnya yang digunakan oleh masyarakat Dayak Tunjung untuk melakukan aktifitas seni atau bahkan untuk pertemuan-pertemuan umum lainnya.
Lou Benunq
Lou ini terletak di kampung Benuq, Kecamatan Damai masih dihuni oleh 25 kk. Di sekitar lamin ini terdapat Lungun atau Tempelaaq berupa peti mati tempat kumpulan tulang-tulang leluhur mererka yang sudah meninggal puluhan tahun yang lalu melalui upacara adat Kwangkay.
Lou Tolatn
Lou Tolatn terletak di Kampung Lambing, Kecamatan Muara Lawa. Lamin ini merupakan lamin tertua di Kecamatan Muara Lawa. Lou Tolatn masih relatif alami dengan lingkungan yang masih rindang. Disekitar lamin terdapat komplek kuburan tua dan danau sebagai persediaan air untuk penghuni lamin kala itu.
Lou Mancong
Lou Mancong (Lamin Mancong) merupakan rumah oanajang atau lamin adat yang sangat terkenal di Kampung Mancong, Kecamatan Jempang. Lamin ini memiliki dua lantai yang digunakan sebagai perkumpulan masyarakat suku Benuaq di Kampung Mancong untuk melakukan aktifitas sehari-hari dan membuat kerajinan tangan dan tenun doyo (ulap doyo). Tenun ikat Ulap Doyo merupakan tenun adat dan kerajinan tradisional khas suku Dayak Benuaq Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur. Ulap Doyo digunakan untuk pakaian upacara adat dan tari-tarian. Ulap Doyo ini mempunyai ciri khas yang berbeda dengan tenun iakt lainnya di Indonesia. Ciri khas tersebut terletak pada motif, sistem ikat tenun dan bahan baku berupa benag dari daun Doyo (Curcoliga Latifalia Lend)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar